Dalam berbagai penjelasan sejarah telah disebutkan bahwa ketika
berakhirnya kejayaan kerajaan sriwiaya, muncullah kerajaan-kerajaan melayu yang
berdiri sendiri. Sedikit berbicara mengenai kerajaan sriwijaya yang merupakan
kerajaan melayu dengan masih memeluk agama budha. Dimana prasasti pertama yang
memuat nama sriwijaya ialah prasasti kedukan bukit di pinggir sungai tatang
dipalembang. Prasasti itu berangka tahun 605 Caka bersamaan dengan tahun 683 M. Aksara yang digunakan ialah aksara pallawa, sedangkan bahasanya ialah bahasa melayu kuno. Namun sebelum tahun 683 M tersebut, nama Sriwijaya suda disebut dalam berita cina.
Posting Terbaru
Tampilkan postingan dengan label MELAYU SEJAGAD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MELAYU SEJAGAD. Tampilkan semua postingan
KOK NAMANYA CENDEKIAWAN MUDA MELAYU
Kawan, kemarin Selasa 25 juni 2013,ketika Admin baru keluar dari ujian “Perkembangan Tekhnologi Komunikasi” di kampus FISIP UNRI, Admin dijumpai oleh salah seorang rekan yang nampaknya sangat peduli dengan Perkembangan kebudayaan melayu. Beliau mempertanyakan tentang keberadaan Cendekiawan Muda Melayu kite ni. “Mengpa haris Cendekiawan Muda Melayu namanya? Cendekiawan itu apa? Sudah pantas Kalian dipanggil Cendekiawan?”. Wah,, ndmin semp[at “blank” juga sekejap ketika disuguhkan pertanyaan yang lumayan kritis macam tu. Maklum baru siap ujian, kelakar belum tebukak…
Pasca pelantikan memang banyak yang bertanya-tanya, “siapa
sih CMM itu?” ye tak. Dan mungkin ape yang Admin alami pernah juga dialami oleh
kawan-kawan dalam waktu, tempat, dan kesempatan berbeda.
Dalam kasus ni, admin jawab normative sikit je.
Pertame, Nama organisasi kite ni kan Cendekiawan Muda Melayu. Yang perlu di garis bawahi itu kata cendekiawan. Kata Cendekiawan macam yang disampaikan ayahanda Al Azhar pas pelantikan kite tu. Cendekiawan tak mengenal batasan, baik dari segi Umur, maupun kedaerahan. Artinye taka da cendekiawan tua atau muda, taka da pula cendekiawan melayu atau non melayu. Cendekiawan tetaplah diibaratkan orang yang berumah diatas angin, tak tebawa arus tapi paham akan angin. Tak pandang anginnya dimana.
Lalu kenapa CMM tu Cendekiawan Muda Melayu? Nah disinilah Pokok persoalannye. Kata Muda “bagi Admin” merujuk kepada sesuatu yang belum masak, akan matang, tapi tak dapat dikatakan matang. Artinya Cendekiawan Muda Melayu adalah orang yang mempersiapkan dirinye untuk menjadi Cendekiawan yang sebenarnya Cendekiawan. Kata Cendekiawan Muda juga merujuk kepada kata perjuangan, iktiar, dan jihad. Orang yang berjuang menuntut ilmu, bukan orang yang telah benar-benar Ber ilmu.
Sebagaimana juga sabda Rasulullah, “Tuntutlah Ilmu dari ayunan sampai liang kubur!”. Maka Cendekiawan Muda tidak lah terbatas pada orang-orang yang muda saja, melainkan mereka yang berjuang menuntut ilmu, apakah itu anak SD, SMP, SMA, anak Kuliah, bahkan orang tua yang nyawanya tinggal sikit je kalau dia masih berjuang menuntut ilmu masih dapat dikatakan Cendekiawan Muda.
Pada CMM ini, kita batasi pengertian Cendekiawan Muda dengan kata Melayu. “Lah kenape? Apa tak cukup Cendekiawan je?”. Tak macam tu, sepertiyang telah diterangkan sebelumnya, kata Cendekiawan “berlaku juga bagi Cendekiawan Muda” sebenarnya memang tak mengenal batasan. Alam tekembang jadikan Guru, seluas jagad ini, sebanyak itulah sumber ilmu. Agar dapat mencapai kecendekia’an yang sedang kite usahakan ni lebih terkonsentrasi dan tidak mengambang, maka dipandang perlu kiranye untuk memberikan batasan sesuai dengan Tunjuk Ajar Melayu. Tentu tak menutup kemungkinan untuk beguru ditempat lain. Hanya saje macam Universitas-universitas tu lah, ini jurusan Melayu, kalau tak cukup atau tak suka, dipersila nyari yang jurusan lain. Bagaimana menurut kawan-kawan?
Lepaslah satu persoalan perkara nama, Cendekiawan Muda Melayu adalah orang yang berjuang menuntut ilmu berdasarkan tunjuk ajar melayu, bukan orang yang dah benar-benar berilmu perkara melayu. Nah, sudah pantaskah kawan-kawan memakai nama Cendekiawan Muda Melayu? tentu Kembali kepada kawan kawan lagi.
Mungkin itu saje yang dapat Admin sampaikan dalam tulisan ringkas ni, mudah-mudahan kawan-kawan dapat memetik sedikit hikmah dari apa yang Admin sampaikan, telebih tekurang admin mohon maaf je, pada Allah SWT admin mohonkan Ampunan.
Musyawarah dan Melayu
Lumbung disini bukan hanya tempat penyimpanan padi atau hasil bumi lainnya, namun juga berfungsi sebagai wadah untuk menyimpan segala aset masyarakat setempat baik yang bergerak maupun yang diam yang ditujukan untuk mengangkat harkat dan martabat hidup pribumi setempat. Musyawarah yang dijalankan biasanya membahas mengenai pengelolaan sistem tanah adat berdasarkan budaya dan adat setempat.
Sehingga sistem musyawarah yang dijalankan akan memiliki corak dan karakter yang berbeda antara daerah yang satu dengan yang lainnya. Disini dapat dilihat bahwa suku Melayu telah mengenal sistem politik yang egaliter dan mengakar kepada budayanya. Maka tidak mengherankan bahwa suku Melayu mempunyai ikatan persaudaraan yang kuat, sebab musyawarah memaknakan adanya tolong-menolong dan kesetiakawanan sosial sebagai suatu permufakatan. Musyawarah juga merupakan sarana dimana rakyat dapat diposisikan untuk membangun aturan-aturan dasar dalam kehidupannya baik pada tatanan nilai maupun pada tatanan norma yang bersumber kepada hukum adat setempat.
“ tegak adat karena mufakat, tegak tuah karena musyawarah ”. Acuan ini menyebabkan mereka amat menghormati, menjunjung tinggi, dan memuliakan musyawarah dan mufakat dalam kehidupan sehari-hari. Apapun bentuk rancangan dan pekerjaan , baik bersifat pribadi, keluarga atau umum harus di musyawarahkan, setidak-tidaknya dalam lingkungan terbatas.
Sistem musyawarah ini lambat laun hilang diakibatkan hancurnya sistem
tanah adat melalui culture stelsel yang diberlakukan oleh kaum
penjajah. Hancurnya sistem tanah adat berakibat kepada mulai hilang dan lunturnya
musyawarah dalam kehidupan masyarakat melayu.
dalam ungkapan adat dikatakan “di dalam musyawarah buruk baikknya akan terdedah” atau “di dalam mufakat, berat ringan sama diangkat”
Menurut adat dan tradisi melayu, bila tercapai kesepakatan dalam
musywarah, maka kesepakatan itu menjadi tanggung jawab bersama dan tidak
boleh diabaikan. semua pihak yang terlibat tidak boleh berlepas tangan.
siapapun yang menyalahi kesepakatan dianggap melanggar adat dan ia
menjadi hina dalam pandangan masyarakatnya.
Orang
tua-tua mengatakan, “bila bulat mufakat, berat ringan wajib diangkat”, sebaiknya “siapa ingkar dari mufakat, tanda dirinya tidak beradat”.
TARI MAK INANG PULAU KAMPAI
Tari Mak Inang Pulau Kampai merupakan salah satu tari tradisional melayu. Jumlah penari dalam tarian ini paling sedikitnya dua orang, yakni laki-laki dan perempuan. Tari Mak Inang Pulau Kampai menceritakan pertemuan antara bujang dan dara, perjalinan kasih mereka, hingga akhirnya pasangan itu melangsungkan pernikahan.
1. Asal-usul
Tari Mak Inang Pulau Kampai merupakan tarian dasar dalam tradisi melayu. Seiring dengan perkembangan zaman, tarian ini telah mengalami perubahan, naun beberapa gerakan dasar tarian masih dipertahankan. Hal ni demi menjaga maksud dan pesan yang ingin disampaikan. Tari Mak Inang Pulau Kampai menggunakan tempo sedang, yaitu 2/4. Tempo ini disebut tempo rumba atau mambo yang di kalangan orang-orang Melayu disebut tempo Mak Inang. Tari Mak Inang Pulau Kampai terdiri dari empat ragam dimana setiap ragam terdiri dari 8x8. Tiap-tiap ragam dibagi menjadi dua bagian, yang masing-masing bagian 4x8. Bagian kedua dari ragam-ragam tersebut merupakan pengulangan bagian pertama.
Masyarakat Melayu biasanya mementaskan tarian ini di dalam berbagai upacara dan acara-acara yang melibatkan banyak orang. Bagi masyarakat Melayu menyelenggarakan kenduri besar atau pesta panen setelah menuai padi menjadi suatu budaya yang berkesinambungan. Acara ini menjadi ajang berkumpul semua orang kampong, termasuk juga lajang dan dara yang sedang dalam proses mencari pasangan hidup (Tengku Mira Sinar, ed. 2009: 15). Proses pencarian jodoh dalam bingkai kearifan Melayu tersebut kemudian menjadi inspirasi dalam gerakan-gerakan Tari Mak Inang Pulau Kampai.
2. Penari
Penari dalam Tari Mak Inang Pulau Kampai adalah sepasang anak muda laki-laki dan perempuan. Pemilihan penari tersebut menyesuaikan dengan tema yang diusung oleh tarian ini, yakni perjalinan kasih di antara dua anak muda.
3. Ragam Gerakan
Tari Mak Inang Pulau Kampai bercerita tentang dara dan lajang yang sedang dalam proses mencari pasangan suami istri. Para penari memperagakan gerakan-gerakan yang memperlihatkan bagaimana pasangan muda-mudi tersebut berkenalan dan melakukan pendekatan satu sama lain dan hubungan mereka hingga ke jenjang pernikahan. Ada empat ragam gerakan dalam Tari Mak Inang Pulau Kampai. Pada ragam-ragam tersebut ada beberapa gerakan yang sama dengan gerakan sebelumnya, ada pula gerakan yang berbeda. Ragam-ragam gerakn Tari Mak Inang Pulau Kampai saling melengkapi dan berkolaborasi antara satu ragam dengan ragam yang lain. Ragam-ragam tersebut antara lain :
a. Ragam 1
Ragam ini menggambarkan pertemuan antara laki-laki dan perempuan muda yang belum saling kenal. Keduanya memetik bunga yang ada di sekitar tempat tersebut untuk mencari perhatian dan mengisi waktu masing-masing. Ragam gerakan pada bagian ini dibagi menjadi dua, yaitu ragam 1A dan ragam 1B.
Ragam 1A
· Gerakan penari di tempat, kaki berjalan, tangan melenggang, 1x8
· Pada hitungan 1-4 maju penari melenggang serong kanan menuju garis tengah (garis bayangan) dan pada hitungan 4 kaki kiri tepat menginjak garis tengah. Bersamaan dengan itu posisi tangan kiri berada di depan dada, telapak tangan menghadap ke depan, ujung jari sejajar dengan sisi bahu sebelah kiri dan dilentikkan. Pada hitungna 5-8, mundur kembali ke semula dengan posisi tangan tidak berubah.
· Maju beredar dalam hitungan 1x8 menuju ke sisi kanan pasangan dan saat melewati garis tengah membelok ke kanan. Tangan bergerak seolah memetik bunga. Caranya, pada hitungan 1 dan hitungan ganjil berikutnya, tangan kanan dinaikkan serong kanan atas dengan jari melentik, ujung jari menghadap ke atas, telapak tangan menghadap serong kanan depan dan tangan kiri diantarkan serong kiri bawah. Apabila ditarik garis bayangan dari ujung jari kanan ke ujung jari kiri merupakan garis lurus yang menyilang badan. Pada hitungan 2 dan hitungan genap berikutnya, tangan menyilang di depan badan setinggi pinggang dengan posisi pergelangan tangan kiri dan telapak kanan dikepalkan.
· Maju beredar dalam hitungan 1x8 kembali ke tempat dengan edaran membentuk mata pancing atau huruf “s” terbalik. Tangan bergerak seolah memetik bunga dengan cara pada hitungan 1 dan hitungan ganjl berikutnya tangan kiri dinaikkan serong kiri atas dengan jari melentik, ujung jari menghadap ke atas, telapak tangan menghadap serong kiri depan, tangan kanan menghadap serong kiri depan dan tangan kanan diantarkan serong kanan bawah dengan jari melentik, telapak tangan menghadap serong kanan bawah. Pada hitungan 2 dan hitungan genap berkutnya, tangan menyilang di depan badan setinggi pinggang dengan posisi pergelangan tangan kiri di atas pergelangan tangan anan dan telapak tangan dikepalkan. Gerakan ini kebalikan dari nomor 3.
Ragam 1B
· Gerakan di tempat, kaki berjalan, tangan melenggang, 1x8.
· Pada hitungan 1-4 maju penari melenggang serong kiri menuju garis tengah (garis bayangan) dan pada hitungan 4 kaki kiri tepat menginjak garis tengah. Bersamaan dengan itu posisi tangan kiri berada di depan dada, telapak tangan menghadap ke depan, ujung jari sejajar dengan sisi bahu sebelah kiri dan dilentikkan. Pada hitungna 5-8, mundur kembali ke semula dengan posisi tangan tetap.
· Gerakan ini sama dengan gerakan ragam 1A nomor 3.
· Gerakan ini sama dengan gerakan ragam 1A nomor 4.
b. Ragam 2
Gerakan pada ragam yang kedua menceritakan bahwa sepasang muda-mudi itu sudah mengenal satu sama lain, meskipun belum akrab. Keduanya mencari kepastian perasaan masing-masing sambil ajuk-mengajuk hati, menyelami sukma.
Ragam 2A
· Gerakan di tempat, kaki berjalan, tangan melenggang. Pada hitungan 1 sampa 4 penari melenggang di tempat sambil turun/jongkok dengan arah serong kanan dan pada hitungan 5 sampai 8 perlahan-lahan kembali berdiri.
· Sama dengan gerakan nomor 2 pada gerakan ragam 1A.
· Pada hitungan 1 sampai 4 penari beredar menuju ke sisi kanan pasangan melewati garis tengah, tangan kiri lentik terkembang bergerak dari arah kiri atas menuju tengah badan. Sedangkan tangan kana melentik terkembang dengan ujung jari menghadap ke atas bergerak dari arah kanan bawah menuju ke garis tengah badan dan bertemu dengan tangan kiri sehingga membentuk silangan tangan depan badan dengan posisi tangan kanan berada di dalam.
Pada hitungan 5 sampai 8, penari membalikkan badan dan mundur. Tangan kiri langsung ke sisi kiri badan, tangan kiri penari laki-laki berkacak pinggang, sedangkan tangan kiri penari perempuan berada di pangkal paha. Adapun tangan kanan diputar berpatah Sembilan di depan dada, telapak tangan menghadap ke depan, ujung jari sejajar dengan sisi bahu sebelah kiri dan dilentikkan.
· Penari maju beredar 1x8 kembali ke tempat dengan edaran membentuk mata pancing atau huruf “s” terbalik. Pada hitungan 1 sampai 4, tangan lentik terkembang ke kiri dank ke kanan dengan ujung jari menghadap ke depan.
Pada hitungan 4 sampai 8 tangan kanan berada di sisi kanan badan, tangan kiri penari laki-laki berkacak pinggang, sedangkan tangan kanan penari perempuan berada di pangkal paha atau menyingsingkan kan. Adapun tangan kiri berada di depan badan sebelah kanan setinggi pinggang dengan jari melentik, telapak tangan menghadap ke kanan, ujung jari serong ke atas kurang lebih 45 derajat.
Ragam 2B
· Gerakan di tempat, kaki berjalan, tangan melenggang. Pada hitungan 1-4 penari melenggang di tempat sambil berjongkok menyerong ke kiri dan pada hitungan 5-8 penari berdiri dengan perlahan-lahan.
· Gerakan sama dengan ragam 2A nomor 2.
· Gerakan sama dengan gerakan ragam 2A nomor 3.
· Gerakan sama dengan gerakan ragam 2A nomor 4.
c. Ragam 3
Ragam gerakan ketiga menggambarkan penzahiran sikap serta sifat dari keduanya yang diungkapkan dengan gerakan memetik beberapa kuntum bunga. Si jejaka mengikuti memetik beberapa kuntum bunga kemudian merangkainya dengan gerakan pencak (bunga) silat. Maksud dari gerakan ini adalah untuk memperlihatkan bahwa ia dapat melindungi sang dara, menjadi pengayom, dan dapat menjadi patriot bangsa. Karangan bunga tersebut kemudian diserahkan kepada si dara. Si dara menerima karangan bunga tersebut dengan penuh kepercayaan sebagai cerminan kasih yang berbalas. Gerakan-gerakan pada raga mini, yaitu:
· Penari perempuan: bergerak turun atau jongkok secara perlahan 1x8 dan perlahan naik 1x8. Tangan bergerak lemah gemulai menggambarkan sedang merangkai bunga. Pada hitungan 1, tangan kanan bergerak ke samping kanan. Pada hitungan 2, tangan kanan ke tengah/dalam. Pada hitungan 3, tangan ke depan. Pada hitungan 4, tangan kembali ke tengah/dalam. Pada hitungan 5, tangan kiri ke samping kiri. Pada hitungan 6 tangan kiri ke tengah/dalam. Hitungan 7 tangan kiri ke depan, dan hitungan 8 tangan kiri kembali ke tengah/dalam.
· Penari laki-laki: gerakan di tempat hitungan 1x8 dengan gerakan puncak (bunga) silat yang mengambarkan memetik satu atau dua tangkai bunga, kemudian diangkat dan dirangkai.
· Pada hitungan 1x8 berikutnya, penari maju menuju pasangan dan meyerahkan karangan bunga yang telah dirangkai, yaitu pada hitungan 1 sampai 4 maju dan hitungan 5 sampai 8 mundur kembali ke tempat semula.
· Pada hitungan 1 sampai 4 penari beredar menuju garis tengah, hitungan 5 dan 6 mundur melingkar dengan sisi kanan badan sebagai poros, hitungan 7 dan 8 kembali maju melingkar dengan sisi kanan sebagai poros. Tangan kiri berada di sisi kiri badan; tangan iri penari laki-laki berkacak pinggang, sedangkan tangan kiri penari perempuan berada di pangkal paha atau menyingsingkan kain. Adapun tangan kanan berada di kiri depan badan setinggi pinggang, jari melentik, telapak tangan menghadap ke kiri, ujung jari serong ke atas sekitar 45 derajat.
· Sama dengan gerakan ragam 2A nomor 4.
d. Ragam 4
Gerakan-gerakan pada ragam 4 menggambarkan tumbuhnya saling pengertian di antara keduanya, kemudian mereka bersepakat untuk memohon restu kepada kedua orangtua mereka untuk menjalin hubungan pernikahan.
Ragam 4A
· Melenggang di tempat dalam hitungan 1x8.
· Pada hitungan 1-4, penari melenggang maju serong kanan menuju garis tengah dan pada hitungan 4 kaki kiri tepat menginjak garis tengah. Pada hitungan 5-8 penari mundur kembali ke tempat semula dengan tetap melenggang.
· Pada hitungan 1-4, penari maju melenggang manuju garis tengah, kemudian pada hitungan 5 berbelok ke kanan dan maju, hitungan 8 badan berbalik dari kiri denan kaki kiri menyilang di belakang kaki kanan sembari membuka tangan lentik terkembang berpatah Sembilan.
· Sama dengan gerakan ragam 2A nomor 4.
Ragam 4B
· Penari melenggang di tempat pada hitungan 1x8.
· Pada hitungan 1-4, penari melenggang maju serong kiri menuju garis tengah dan pada hitungan 4 kaki kiri tepat menginjak garis tengah, hitungan 5-8 mundur kembali e tempat semula dengan tangan tetap melenggang.
· Sama dengan gerakan ragam 4A nomor 3.
· Sama dengan gerakan ragam 4A nomor 4.
“Garis Edar Tari Mak Inang Pulau Kampai”
1. Asal-usul
Tari Mak Inang Pulau Kampai merupakan tarian dasar dalam tradisi melayu. Seiring dengan perkembangan zaman, tarian ini telah mengalami perubahan, naun beberapa gerakan dasar tarian masih dipertahankan. Hal ni demi menjaga maksud dan pesan yang ingin disampaikan. Tari Mak Inang Pulau Kampai menggunakan tempo sedang, yaitu 2/4. Tempo ini disebut tempo rumba atau mambo yang di kalangan orang-orang Melayu disebut tempo Mak Inang. Tari Mak Inang Pulau Kampai terdiri dari empat ragam dimana setiap ragam terdiri dari 8x8. Tiap-tiap ragam dibagi menjadi dua bagian, yang masing-masing bagian 4x8. Bagian kedua dari ragam-ragam tersebut merupakan pengulangan bagian pertama.
Masyarakat Melayu biasanya mementaskan tarian ini di dalam berbagai upacara dan acara-acara yang melibatkan banyak orang. Bagi masyarakat Melayu menyelenggarakan kenduri besar atau pesta panen setelah menuai padi menjadi suatu budaya yang berkesinambungan. Acara ini menjadi ajang berkumpul semua orang kampong, termasuk juga lajang dan dara yang sedang dalam proses mencari pasangan hidup (Tengku Mira Sinar, ed. 2009: 15). Proses pencarian jodoh dalam bingkai kearifan Melayu tersebut kemudian menjadi inspirasi dalam gerakan-gerakan Tari Mak Inang Pulau Kampai.
2. Penari
Penari dalam Tari Mak Inang Pulau Kampai adalah sepasang anak muda laki-laki dan perempuan. Pemilihan penari tersebut menyesuaikan dengan tema yang diusung oleh tarian ini, yakni perjalinan kasih di antara dua anak muda.
3. Ragam Gerakan
Tari Mak Inang Pulau Kampai bercerita tentang dara dan lajang yang sedang dalam proses mencari pasangan suami istri. Para penari memperagakan gerakan-gerakan yang memperlihatkan bagaimana pasangan muda-mudi tersebut berkenalan dan melakukan pendekatan satu sama lain dan hubungan mereka hingga ke jenjang pernikahan. Ada empat ragam gerakan dalam Tari Mak Inang Pulau Kampai. Pada ragam-ragam tersebut ada beberapa gerakan yang sama dengan gerakan sebelumnya, ada pula gerakan yang berbeda. Ragam-ragam gerakn Tari Mak Inang Pulau Kampai saling melengkapi dan berkolaborasi antara satu ragam dengan ragam yang lain. Ragam-ragam tersebut antara lain :
a. Ragam 1
Ragam ini menggambarkan pertemuan antara laki-laki dan perempuan muda yang belum saling kenal. Keduanya memetik bunga yang ada di sekitar tempat tersebut untuk mencari perhatian dan mengisi waktu masing-masing. Ragam gerakan pada bagian ini dibagi menjadi dua, yaitu ragam 1A dan ragam 1B.
Ragam 1A
· Gerakan penari di tempat, kaki berjalan, tangan melenggang, 1x8
· Pada hitungan 1-4 maju penari melenggang serong kanan menuju garis tengah (garis bayangan) dan pada hitungan 4 kaki kiri tepat menginjak garis tengah. Bersamaan dengan itu posisi tangan kiri berada di depan dada, telapak tangan menghadap ke depan, ujung jari sejajar dengan sisi bahu sebelah kiri dan dilentikkan. Pada hitungna 5-8, mundur kembali ke semula dengan posisi tangan tidak berubah.
· Maju beredar dalam hitungan 1x8 menuju ke sisi kanan pasangan dan saat melewati garis tengah membelok ke kanan. Tangan bergerak seolah memetik bunga. Caranya, pada hitungan 1 dan hitungan ganjil berikutnya, tangan kanan dinaikkan serong kanan atas dengan jari melentik, ujung jari menghadap ke atas, telapak tangan menghadap serong kanan depan dan tangan kiri diantarkan serong kiri bawah. Apabila ditarik garis bayangan dari ujung jari kanan ke ujung jari kiri merupakan garis lurus yang menyilang badan. Pada hitungan 2 dan hitungan genap berikutnya, tangan menyilang di depan badan setinggi pinggang dengan posisi pergelangan tangan kiri dan telapak kanan dikepalkan.
· Maju beredar dalam hitungan 1x8 kembali ke tempat dengan edaran membentuk mata pancing atau huruf “s” terbalik. Tangan bergerak seolah memetik bunga dengan cara pada hitungan 1 dan hitungan ganjl berikutnya tangan kiri dinaikkan serong kiri atas dengan jari melentik, ujung jari menghadap ke atas, telapak tangan menghadap serong kiri depan, tangan kanan menghadap serong kiri depan dan tangan kanan diantarkan serong kanan bawah dengan jari melentik, telapak tangan menghadap serong kanan bawah. Pada hitungan 2 dan hitungan genap berkutnya, tangan menyilang di depan badan setinggi pinggang dengan posisi pergelangan tangan kiri di atas pergelangan tangan anan dan telapak tangan dikepalkan. Gerakan ini kebalikan dari nomor 3.
Ragam 1B
· Gerakan di tempat, kaki berjalan, tangan melenggang, 1x8.
· Pada hitungan 1-4 maju penari melenggang serong kiri menuju garis tengah (garis bayangan) dan pada hitungan 4 kaki kiri tepat menginjak garis tengah. Bersamaan dengan itu posisi tangan kiri berada di depan dada, telapak tangan menghadap ke depan, ujung jari sejajar dengan sisi bahu sebelah kiri dan dilentikkan. Pada hitungna 5-8, mundur kembali ke semula dengan posisi tangan tetap.
· Gerakan ini sama dengan gerakan ragam 1A nomor 3.
· Gerakan ini sama dengan gerakan ragam 1A nomor 4.
b. Ragam 2
Gerakan pada ragam yang kedua menceritakan bahwa sepasang muda-mudi itu sudah mengenal satu sama lain, meskipun belum akrab. Keduanya mencari kepastian perasaan masing-masing sambil ajuk-mengajuk hati, menyelami sukma.
Ragam 2A
· Gerakan di tempat, kaki berjalan, tangan melenggang. Pada hitungan 1 sampa 4 penari melenggang di tempat sambil turun/jongkok dengan arah serong kanan dan pada hitungan 5 sampai 8 perlahan-lahan kembali berdiri.
· Sama dengan gerakan nomor 2 pada gerakan ragam 1A.
· Pada hitungan 1 sampai 4 penari beredar menuju ke sisi kanan pasangan melewati garis tengah, tangan kiri lentik terkembang bergerak dari arah kiri atas menuju tengah badan. Sedangkan tangan kana melentik terkembang dengan ujung jari menghadap ke atas bergerak dari arah kanan bawah menuju ke garis tengah badan dan bertemu dengan tangan kiri sehingga membentuk silangan tangan depan badan dengan posisi tangan kanan berada di dalam.
Pada hitungan 5 sampai 8, penari membalikkan badan dan mundur. Tangan kiri langsung ke sisi kiri badan, tangan kiri penari laki-laki berkacak pinggang, sedangkan tangan kiri penari perempuan berada di pangkal paha. Adapun tangan kanan diputar berpatah Sembilan di depan dada, telapak tangan menghadap ke depan, ujung jari sejajar dengan sisi bahu sebelah kiri dan dilentikkan.
· Penari maju beredar 1x8 kembali ke tempat dengan edaran membentuk mata pancing atau huruf “s” terbalik. Pada hitungan 1 sampai 4, tangan lentik terkembang ke kiri dank ke kanan dengan ujung jari menghadap ke depan.
Pada hitungan 4 sampai 8 tangan kanan berada di sisi kanan badan, tangan kiri penari laki-laki berkacak pinggang, sedangkan tangan kanan penari perempuan berada di pangkal paha atau menyingsingkan kan. Adapun tangan kiri berada di depan badan sebelah kanan setinggi pinggang dengan jari melentik, telapak tangan menghadap ke kanan, ujung jari serong ke atas kurang lebih 45 derajat.
Ragam 2B
· Gerakan di tempat, kaki berjalan, tangan melenggang. Pada hitungan 1-4 penari melenggang di tempat sambil berjongkok menyerong ke kiri dan pada hitungan 5-8 penari berdiri dengan perlahan-lahan.
· Gerakan sama dengan ragam 2A nomor 2.
· Gerakan sama dengan gerakan ragam 2A nomor 3.
· Gerakan sama dengan gerakan ragam 2A nomor 4.
c. Ragam 3
Ragam gerakan ketiga menggambarkan penzahiran sikap serta sifat dari keduanya yang diungkapkan dengan gerakan memetik beberapa kuntum bunga. Si jejaka mengikuti memetik beberapa kuntum bunga kemudian merangkainya dengan gerakan pencak (bunga) silat. Maksud dari gerakan ini adalah untuk memperlihatkan bahwa ia dapat melindungi sang dara, menjadi pengayom, dan dapat menjadi patriot bangsa. Karangan bunga tersebut kemudian diserahkan kepada si dara. Si dara menerima karangan bunga tersebut dengan penuh kepercayaan sebagai cerminan kasih yang berbalas. Gerakan-gerakan pada raga mini, yaitu:
· Penari perempuan: bergerak turun atau jongkok secara perlahan 1x8 dan perlahan naik 1x8. Tangan bergerak lemah gemulai menggambarkan sedang merangkai bunga. Pada hitungan 1, tangan kanan bergerak ke samping kanan. Pada hitungan 2, tangan kanan ke tengah/dalam. Pada hitungan 3, tangan ke depan. Pada hitungan 4, tangan kembali ke tengah/dalam. Pada hitungan 5, tangan kiri ke samping kiri. Pada hitungan 6 tangan kiri ke tengah/dalam. Hitungan 7 tangan kiri ke depan, dan hitungan 8 tangan kiri kembali ke tengah/dalam.
· Penari laki-laki: gerakan di tempat hitungan 1x8 dengan gerakan puncak (bunga) silat yang mengambarkan memetik satu atau dua tangkai bunga, kemudian diangkat dan dirangkai.
· Pada hitungan 1x8 berikutnya, penari maju menuju pasangan dan meyerahkan karangan bunga yang telah dirangkai, yaitu pada hitungan 1 sampai 4 maju dan hitungan 5 sampai 8 mundur kembali ke tempat semula.
· Pada hitungan 1 sampai 4 penari beredar menuju garis tengah, hitungan 5 dan 6 mundur melingkar dengan sisi kanan badan sebagai poros, hitungan 7 dan 8 kembali maju melingkar dengan sisi kanan sebagai poros. Tangan kiri berada di sisi kiri badan; tangan iri penari laki-laki berkacak pinggang, sedangkan tangan kiri penari perempuan berada di pangkal paha atau menyingsingkan kain. Adapun tangan kanan berada di kiri depan badan setinggi pinggang, jari melentik, telapak tangan menghadap ke kiri, ujung jari serong ke atas sekitar 45 derajat.
· Sama dengan gerakan ragam 2A nomor 4.
d. Ragam 4
Gerakan-gerakan pada ragam 4 menggambarkan tumbuhnya saling pengertian di antara keduanya, kemudian mereka bersepakat untuk memohon restu kepada kedua orangtua mereka untuk menjalin hubungan pernikahan.
Ragam 4A
· Melenggang di tempat dalam hitungan 1x8.
· Pada hitungan 1-4, penari melenggang maju serong kanan menuju garis tengah dan pada hitungan 4 kaki kiri tepat menginjak garis tengah. Pada hitungan 5-8 penari mundur kembali ke tempat semula dengan tetap melenggang.
· Pada hitungan 1-4, penari maju melenggang manuju garis tengah, kemudian pada hitungan 5 berbelok ke kanan dan maju, hitungan 8 badan berbalik dari kiri denan kaki kiri menyilang di belakang kaki kanan sembari membuka tangan lentik terkembang berpatah Sembilan.
· Sama dengan gerakan ragam 2A nomor 4.
Ragam 4B
· Penari melenggang di tempat pada hitungan 1x8.
· Pada hitungan 1-4, penari melenggang maju serong kiri menuju garis tengah dan pada hitungan 4 kaki kiri tepat menginjak garis tengah, hitungan 5-8 mundur kembali e tempat semula dengan tangan tetap melenggang.
· Sama dengan gerakan ragam 4A nomor 3.
· Sama dengan gerakan ragam 4A nomor 4.
“Garis Edar Tari Mak Inang Pulau Kampai”


4. Musik Pengiring
Beberapa lagu dan music Melayu menjadi pengiring Tari Mak Inang Pulau Kampai, beberapa lagu yang dapat mengiringi tarian ini, yaitu Lagu Mak Inang Pulang Kampung, Seringgit Dua Kupang, Mak Inang Hang Tuah, dan beberapa lagu lain yang mempunyai tempo sama dengan lagu-lagu tersebut.
5. Nilai-nilai
Selain menjadi salah satu kekayaan budaya masyarakat Melayu, Tari Mak Inang Pulau Kampai juga mempunyai nilai-nilai yang dapat diambil manfaatnya antara lain:
a. Nilai Keindahan
Keindahan yang muncul dalam Tari Mak Inang Pulau Kampai berasal dari kombinasi ragam gerakan, alunan music, dan kemahiran dalam menarikan tarian ini. Tari Mak Inang Pulau Kampai membutuhkan gerakan yang lincah dan lembut dari para penari. Iringan music yang digunakan dalam Tari Mak Inang Pulau Kampai adalah lagu-lagu Melayu yang terkenal indah dan merdu.
b. Nilai Kearifan Lokal
Tari Mak Inang Pulau Kampai bercerita tentang proses bujang dan dara untuk menemukan pasangan hidup hingga ke pernikahan. Melalui tarian ini terlihat bahwa masyarakat Melayu mempunyai kearifan tersendiri mengena masalah mencari pasangan atau calon suami/istri.
c. Nilai Pelestarian Budaya
Tari Mak Inang Pulau Kampai merupakan salah satu kekayaan budaya Melayu yang memperkaya khazanah budaya Indonesia. Pelestarian tarian ini menjad penting artinya sebagai salah satu upaya untuk melestarikan tradisi dan kebudayaan Melayu secara umum. Beberapa cara yang dapat dilakukan dalam rangka pelestarian Tari Mak Inang Pulau Kampai adalah dengan member ruang pementasan bagi para penari tarian tradisional Melayu. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan mengajarkan tarian ini kepada generasi muda
6. Penutup
Tari Mak Inang Pulau Kampai menjadi salah satu kekayaan budaya Nusantara. Pelestarian tari ini akan berlangsung seiring perkembangan tarian itu sendiri dan bagaimana masyarakat melestarikan seni tari ini. Pelestarian budaya, termasuk Tari Mak Inang Pulau Kampai, tentunya memerlukan partisipasi dar berbagai pihak.
"Diketik ulang dari melayuonline.com oleh Asma Aini, KABID Pemberdayaan Perempuan CMM"
*semoga bermanfaat dan jangan lupa tinggalkan komentar yaa ^_^
PULAU PENYENGAT DAN SITUS SEJARAH DI SEKITARNYA
Pulau Penyengat adalah sebuah pulau yang kecil yang terletak di Kecamatan Tanjung Pinang. Dengan luas yang tidak lebih dari 3,50 Km, pulau ini memiliki relief yang berbukit-bukit. Untuk mencapai daerah ini bisa melalui jalur udara dan air. Tapi tak jarang para pelancong dalam maupun luar negeri yang memilih untuk melewati jalur udara dan singgah di Kota Batam untuk berbelanja dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Kota Tanjung Pinang dengan kapal yang memakan waktu lebih kurang 45 menit.
Dari pelabuhan Tanjung Pinang kembali menggunakan perahu kecil yang menggunakan mesin genset untuk menyebrang ke Pulau Penyengat sekitar 10-15 menit perjalanan.
Menurut cerita, pulau ini sudah lama dikenal oleh para pelaut sejak berabad-abad yang lalu karena menjadi tempat persinggahan untuk mengambil air tawar yang banyak tersedia di pulau ini. Asal nama penyengat sendiri memiliki history yakni pernah ketika pelaut-pelaut yang sedang mengambil air bersih di tempat itu diserang oleh semacam lebah yang dipanggil “penyengat” hingga membawa korban. Sejak peristiwa itu pulau ini terkenal dengan panggilan Pulau Penyengat.
Penyengat menyimpan banyak sejarah. Terutama bagi perkembangan sejarah kerajaan melayu yang ada di Riau. Letaknya yang strategis untuk pertahanan negeri Riau, Pulau Penyengat telah berkali-kali menjadi medan pertempuran, termasuk perang Riau dengan Belanda. Benteng-bentang pertahanan yang bergaya ala Portugis masih dapat dilihat hingga sekarang meskipun beberapa bentuknya tidak utuh.
Beberapa situs sejarah yang masih dapat ditemui di Pulau Penyengat yakni :
a. Mesjid Pulau Penyengat
Mesjid ini memiliki keunikan tersendiri, yakni penggunan putih telur sebagai campuran kapur untuk memperkuat beton kubah menara dan bagian tertentu dari mesjid. Terdiri dari 4 buah tiang beton dan pada tiap-tiap penjuru dibangun menara tempat bilal mengumandangkan azan. Terdapat juga 13 buah kubah, dan jika dijumlahkan dengan 4 menara tersebut diatas maka berjumlah 17 yang memiliki makna banyak raka’at sholat wajib bagi umat islam.
Di dalam mesjid terdapat beberapa peninggalan sejarah, salah satunya Alqur’an yang sudah tua, serta mimbar yang masih terlihat kokoh. Sedangkan di luar mesjid terdapat bangunan yang khusus di bangun untuk tempat istirahat atau “ngobrol” bagi jemaah yang sedang menunggu waktu sholat, sehingga ketika sudah berada di dalam mesjid tidak ada lagi yang mengeluarkan suara.
b. Makam Engku Puteri Permaisuri Sultah Mahmud
Makam Engku Puteri terletak di daerah yang disebut “Dalam Besar”. Pusaranya dikelilingi tembok. Di tengah-tengah tembok terdiri dari sebuah bangunan dan makam Engku Puteri terdapat di dalam bangunan tersebut. Di komplek makam Engku Puteri di temui pula makam tokoh-tokoh kerajaan di Riau, seperti makam Raja Haji Abdullah (Marhum Mursyid, Yang dipertuan Muda Riau-Lingga IX) , makam Raja Ali Haji (pujangga Riau), dan makam kerabat-kerabat Engku Puteri lainnya.
Engku Puteri memiliki nama asli Raja Hamidah adalah Putri Raja Haji yang terkenal dalam sejarah Riau-Lingga, Johor dan Pahang. Raja Hamidah kemudian menjadi permaisuri Sultan Mahmud dan dihadiahkan Pulau Penyengat sebagai mahar perkawinan mereka. Engku Puteri pada masanya merupakan wanita yang memiliki pengaruh besar dalam silsilah kerajaan melayu. Ia menjadi orang yang dipercaya untuk mengesahkan kependudukan seorang Raja di kerajaan melayu sekitar Riau-Lingga, Johor dan Pahang.
c. Bekas Istana Raja Haji Ali Marhum Kantor
Komplek bekas istana Marhum Kantor ini hampir sebesar lapangan sepak bola. Terlihat dari luar gedung, bangunan ini dikelilingi tembok.
d. Makam Marhum Kampung Bulang
Makam Marhum Kampung Bulang ( Raja Abdul Rahman Yang dipertuan Muda ke VII) terletak pada sebuah lereng bukit beberapa ratus meter di belakang mesjid Pulau Penyengat. Makam ini dikelilingi dengan tembok yang memiliki ukiran timbul. Bukit tempat makam Raja Abdul Rahman itu sendiri hingga saat ini di kenal dengan Bukit Kursi.
e. Gudang Mesiu atau Gudang Obat Bedil
Bangunan yang tidak seberapa besar ini masih terlihat utuh dan telah dilakukan pemugaran. Bangunan beton berdinding t ebal ini dijadikan tempat penyimpanan mesiu dan obat bedil.
f. 12 Kubu (Benteng dan Parit-parit Pertahanan)
Pusat perbentengan ini terletak di Bukit Kursi dan di Penggawa. Benteng yang langsung menghadap Teluk Riau ini dilindungi oleh parit-parit pertahanan. Konstruksi benteng ini sangat sempurna dan merupakan peninggalan terbaik untuk mempelajari sistem pertahanan di abad ke-18. Pada mulanya di benteng-benteng ini terdapat lebih kurang 90 pucuk meriam berukuran cukup besar. Namun yang tertinggal hanya 4 benteng di Bukit Kursi, konon yang selebihnya telah diangkut ke Singapura, dijual sebagai besi tua oleh Pemerintahan Belanda dan sebagian lagi dibawa ke Tanjung Pinang sebagai hiasan pinggir-pinggir jalan dan sekitar kantor Pemerintahan.
Di Pulau Penyengat juga terdapat situs budaya rumah adat melayu Kepulauan Riau. Bangunan ini telah mengalami pemugaran. Bagian yang unik dari rumah adalah pada atap terdapat ornamen berbentuk tiang lurus yang dimaknai sebagai “alif” dalam agama islam. Untuk mengelilingi Pulau Penyengat dapat dilakukan dengan berjalan kaki atau menggunakan fasilitas becak motor. Hanya dengan membayar sekitar 20 ribu rupiah, dapat berkeliling Pulau Penyengat untuk melihat situs sejarah dan sambil melihat kehidupan berbudaya masyarakat tempatan.
Selain Pulau Penyengat, di sekitar wilayah Kota Tanjung Pinang yang terletak di Pulau Bintan ini, terdapat situs sejarah sungai Carang dan makam Daeng Marewah (Marhum Mangkat di Sungai Baru). Menurut sejarahnya, sungai carang merupakan asal muasal pemberian nama negeri Riau dimana pada masanya sungai ini bernama Riuh atau rioh yang berarti ramai atau ribut.
Di bagian darat kota Tanjung Pinang juga dapat di temui makam Daeng Celak (Marhum Mangat di Kola). Kedua daeng ini berasal dari Pulau Sulawesi dan memiliki hubungan kerajaan dengan Riau-Lingga, sehingga keduanya di pertuan muda karena telah menaklukkan daerah yang ada di tempat itu. Terdapat juga bangunan museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah. Bagian depan museum terpajang 4 kepala patung pembesar di Tanjung Pinang, patung meriam, dan lukisan yang menggambarkan suasana peperangan Raja Haji dengan Belanda di teluk Riau. Sedangkan di dalam gedung terdapat peninggalan-peninggalan kerajaan melayu Riau-Lingga, foto-foto bersejarah, ornamen pernikahan adat melayu, pakaian adat hingga 3 pasang patung yang menjadi penduduk dan memiliki sejarah di kota Tanjung Pinang, yakni etnis Melayu, China, dan Orang Keling.
Sejarah Asal Kata RIAU
Nama Riau menurut Hasan Junus, setidaknya ada tiga kemungkinan asal usul penyebutannya. Pertama, toponomi riau berasal dari penamaan orang Portugis rio yang berarti sungai. Kedua, tokoh Sinbad al-Bahar dalam kitab Alfu Laila Wa Laila menyebut "riahi" untuk suatu tempat di Pulau Bintan, seperti yang pernah dikemukakan oleh almarhum Oemar Amin Hoesin dalam pidatonya ketika terbentuknya Provinsi Riau. Ketiga, diambil dari kata rioh atau riuh yang berarti hiruk-pikuk, ramai orang bekerja. Dari ketiga kemungkinan di atas, kata rioh atau riuh merupakan hal yang paling sangat mendasar penyebutan nama Riau.
Nama Riau yang berpangkal dari ucapan rakyat setempat, konon berasal dari suatu peristiwa ketika didirikannya negeri baru di sungai Carang untuk jadikan pusat kerajaan. Hulu sungai itulah yang kemudian bernama Ulu Riau. Adapun peristiwa itu kira-kira seperti teks seperti di bawah ini.
Tatkala perahu-perahu dagang yang semula pergi ke Makam Tauhid (ibukota Kerajaan Johor) diperintahkan membawa barang dagangannya ke sungai Carang di pulau Bintan (suatu tempat sedang didirikan negeri baru) di muara sungai itu mereka kehilangan amh. Bila ditanyakan kepada awak-awak perahu yang hilir, "di mana tempat orang-orang raja mendirikan negeri" mendapat jawaban "di sana di tempat yang rioh" sambil mengisyaratkan ke hulu sungai. Menjelang sampai ke tempat yang dimaksud, jika ditanya ke mana maksud mereka, selalu mereka jawab, "mau ke rioh".
Pembukaan negeri Riau yang sebelumnya bernama sungai Carang itu pada 27 September 1673, diperintahkan oleh Sultan Johor Abdul Jalil Syah III (1623-1677) kepada Laksamana Abdul Jamil. Setelah Riau menjadi negeri, maka Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, merupakan sultan Riau pertama yang dinobatkan pada 4 Oktober 1722. Setelahnya, nama Riau dipakai untuk menunjukkan satu di antara 4 daerah utama kerajaan Johor, Pahang, Riau dan Lingga.
Setelah Perjanjian London 1824 yang membelah dua kerajaan tersebut menjadi dua bagian, maka nama riau digabungkan dengan lingga, sehingga terkenal pula sebutan Kerajaan Riau-Lingga. Pada zaman pemerintahan Belanda dan Jepang, nama ini dipergunkan untuk daerah kepulauan Riau ditambah dengan pesisir Timur Sumatera.
Pada zaman kemerdekaan, Riau merupakan sebuah kabupaten yang terdapat di Provinsi Sumatera Tengah. Setelah Provinsi Riau terbentuk pada pada tahun 1958, maka nama itu di samping dipergunakan untuk nama sebuah kabupaten, dipergunakan pula untuk nama sebuah provinsi seperti saat ini. Sejak tahun 2002 Riau terpecah menjadi dua wilayah, yaitu Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau. Wilayah yang menjadi Provinsi Riau saat ini berasal dari beberapa wilayah kerajaan Melayu sebelumnya yakni Kerajaan Pelalawan (1530-1879), Kerajaan Inderagiri (1658-1838), dan Kerajaan Siak (1723-1858) dan sebagian dari Kerajaan Riau-Lingga (1824-1913).
Nama Riau yang berpangkal dari ucapan rakyat setempat, konon berasal dari suatu peristiwa ketika didirikannya negeri baru di sungai Carang untuk jadikan pusat kerajaan. Hulu sungai itulah yang kemudian bernama Ulu Riau. Adapun peristiwa itu kira-kira seperti teks seperti di bawah ini.
Tatkala perahu-perahu dagang yang semula pergi ke Makam Tauhid (ibukota Kerajaan Johor) diperintahkan membawa barang dagangannya ke sungai Carang di pulau Bintan (suatu tempat sedang didirikan negeri baru) di muara sungai itu mereka kehilangan amh. Bila ditanyakan kepada awak-awak perahu yang hilir, "di mana tempat orang-orang raja mendirikan negeri" mendapat jawaban "di sana di tempat yang rioh" sambil mengisyaratkan ke hulu sungai. Menjelang sampai ke tempat yang dimaksud, jika ditanya ke mana maksud mereka, selalu mereka jawab, "mau ke rioh".
Pembukaan negeri Riau yang sebelumnya bernama sungai Carang itu pada 27 September 1673, diperintahkan oleh Sultan Johor Abdul Jalil Syah III (1623-1677) kepada Laksamana Abdul Jamil. Setelah Riau menjadi negeri, maka Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, merupakan sultan Riau pertama yang dinobatkan pada 4 Oktober 1722. Setelahnya, nama Riau dipakai untuk menunjukkan satu di antara 4 daerah utama kerajaan Johor, Pahang, Riau dan Lingga.
Setelah Perjanjian London 1824 yang membelah dua kerajaan tersebut menjadi dua bagian, maka nama riau digabungkan dengan lingga, sehingga terkenal pula sebutan Kerajaan Riau-Lingga. Pada zaman pemerintahan Belanda dan Jepang, nama ini dipergunkan untuk daerah kepulauan Riau ditambah dengan pesisir Timur Sumatera.
Pada zaman kemerdekaan, Riau merupakan sebuah kabupaten yang terdapat di Provinsi Sumatera Tengah. Setelah Provinsi Riau terbentuk pada pada tahun 1958, maka nama itu di samping dipergunakan untuk nama sebuah kabupaten, dipergunakan pula untuk nama sebuah provinsi seperti saat ini. Sejak tahun 2002 Riau terpecah menjadi dua wilayah, yaitu Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau. Wilayah yang menjadi Provinsi Riau saat ini berasal dari beberapa wilayah kerajaan Melayu sebelumnya yakni Kerajaan Pelalawan (1530-1879), Kerajaan Inderagiri (1658-1838), dan Kerajaan Siak (1723-1858) dan sebagian dari Kerajaan Riau-Lingga (1824-1913).
PAKAIAN TRADISIONAL MELAYU RIAU
ADAT istiadat perkawinan Melayu di Riau berpangkal pada adat istiadat Melayu padazaman kebesaran kerajaan-kerajaan Melayu Melaka, Johor, dan Riau, seperti Kerajaan Siak, Indragiri, Kerajaan Riau-Lingga, Kerajaan Pelalawan, Kerajaan Rambah, Kerajaan Gunung Sahilan, Kerajaan Rokan, dan Kerajaan Kampar. Namun di daerah perbatasan dengan Negeri Minangkabau dan Tapanuli Selatan terdapat akulturasi adat dan kebiasaan di kawasan tersebut.
Begitu pula dalam adat istiadat berpakaian. Mempunyai ketentuan sesuai dengan adat-istiadat wilayah setempat. Baik itu pakaian Melayu harian, pakaian Melayu resmi, pakaian Melayu dalam menghadiri upacara nikah kawin, pakaian Melayu dalam upacara adat, pakaian-pakaian adat Melayu dalam prosesi nikah kawin, pakaian alim ulama dan pakaian upacara keagamaan.
A. Pakaian Harian
Pakaian ini dipakai sewaktu melaksanakan kegiatan sehari-hari, baik untuk bermain, ke ladang, ke laut, di rumah, maupun kegiatan lainnya.
a. PakaianAnak-anak
Anak lelaki yang masih kecil dikenakan dengan pakaian baju monyet. Bila meningkat besar dikenakan baju kurung teluk belanga atau cekak musang. Kadang ada yang memakai celana setengah atau di bawah lutut dilengkapi dengan songkok atau kopiah.
Untuk anak perempuan yang belum akil baliq, mereka memakai baju kurung satu stel dengan bermotif bunga-bunga satu corak. Untuk anak perempuan yang sudah akil baliq mereka mengenakan pakaian sesuai menurut adat istiadat Melayu.
b. PakaianDewasa (Akil Baliq)
. Pakaian harian untuk anak lelaki yang sudah akil baliq adalah baju kurung cekak musang atau teluk belanga tulang belut. Sedangkan untuk perempuan mengenakan pakaian baju kurung labuh, baju kebaya pendek, dan baju kurung tulang belut. Stelan memakai baju kurung ini adalah kain batik, dan untuk tutup kepala berupa selendang atau kain tudung lingkup yang dipakai jika untuk keluar rumah.
c. Pakaian Orang Tua-tua
Pakaian orang tua-tua perempuan setengah baya adalah baju kurung yang disebut baju kurung tulang belut. Baju longgar dan lapang dipakai. Selain itu ada juga baju kurung, ada kebaya labuh panjangnya hingga ke bawah lutut dan agak longgar. Kedua bentuk baju ini memakai pesak dan kekek. Lalu ada juga baju kebaya pendek yang biasa dipakai untuk ke ladang maupun untuk di rumah.
B. Pakaian Resmi
Pakaian resmi lelaki baju kurung cekak musang yang dilengkapi dengan kopiah. Kain samping yang terbuat dari kain tenun dari Siak, Indragiri, Daik, Terengganu, atau lainnya yang dibuat dan bermotifkan ciri khas budaya Melayu. Sedangkan untuk perempuan adalah baju kurung kebaya labuh dan baju kurung teluk belanga atau juga baju kurung cekak musang. Untuk kepala rambutnya disiput jonget, lintang, lipat pandan. Pada siput dihiasi dengan bunga melur, bunga cinga atau diberi permata. Kepala ditutup dengan selendang, dibelitkan keleher. Rambut tak tampak, dada tertutup.
C. Pakaian Melayu dalam Upacara Adat
Dalam hal pakaian adat , setiap wilayah kesatuan adat membakukan secara lengkap pakaian adat wilayah kesatuan adatnya, dengan lambing-lambang dan makna yang terkandung di dalamnya.
Pakaian adat ini dipakai dalam upacara adat yang pada masa lalu dipakai di kerajaan-kerajaan di kawasan Bumi Melayu, seperti untuk: upacara penobatan raja, pelantikan menteri, orang besar kerajaan dan datuk-datuk, upacara menjunjung duli, penyambutan tamu-tamu agung dan tamu-tamu dihormati, upacara adat menerima anugerah dan penerimaan persembahan dari rakyat dan negeri-negeri sahabat.
Tata berpakaian secara adat dalam upacara adat dapat dibedakan sebagai berikut. Pakaian adat dalam acara nikah dan perkawinan, pakaian upacara adat, pakaian Melayu sebagai mempelai pengantin, pakaian ulama dan upacara keagamaan.
D. Pakaian dalam Upacara Perkawinan
Bentuk pakaian Melayu pesisir, kepulauan, dan daratan Riau tidaklah berbeda terlalu jauh. Untuk upacara perkawinan ini pakaian yang dikenakan oleh pengantin lelaki dan perempuan daerah pesisir, kepulauan dan daratan ini ditentukan oleh prosesi pernikahan. Misalnya pakaian yang dikenakan untuk akad nikah berbeda dengan pakaian yang dikenakan padamalam berinai, pada hari besar, dan seterusnya.
.
Umumnya untuk pakaian mempelai lelaki bentuk bajunya adalah baju cekak musang atau baju kurung teluk belanga. Kecuali daerah Lima Koto Kampar baju pengantin lelakinya berbentuk jubah.
Sedangkan untuk perempuan, pada acara malam berinai memakai kebaya labuh atau memakai baju kurung teluk belanga dari bahan tenunan, sutra, saten, atau borkat. Sedangkan kain yang dipakai tenunan dari Siak, Indragiri, Daik, atau Trengganu.
E. PakaiandalamUpacaraKeagamaan
Dalam upacara keagamaan bagi lelaki tua dan muda mengena kaian pakaian berbentuk cekak musang atau baju kurung teluk belanga, pakai songkok, kain samping dari kain pelekat atau kain tenunan. Sistem pemakaian baju ada dua macam, yaitu baju dagang dalam dan baju dagang luar.
· Dikutip oleh Mosthamir,
Dari buku PAKAIAN TRADISIONAL MELAYU RIAU
oleh Drs.H. O.K. NizamiJamildkk, terbitanLembagaAdatMelayu Riau/LPNU, 2005.
Begitu pula dalam adat istiadat berpakaian. Mempunyai ketentuan sesuai dengan adat-istiadat wilayah setempat. Baik itu pakaian Melayu harian, pakaian Melayu resmi, pakaian Melayu dalam menghadiri upacara nikah kawin, pakaian Melayu dalam upacara adat, pakaian-pakaian adat Melayu dalam prosesi nikah kawin, pakaian alim ulama dan pakaian upacara keagamaan.
A. Pakaian Harian
Pakaian ini dipakai sewaktu melaksanakan kegiatan sehari-hari, baik untuk bermain, ke ladang, ke laut, di rumah, maupun kegiatan lainnya.
a. PakaianAnak-anak
Anak lelaki yang masih kecil dikenakan dengan pakaian baju monyet. Bila meningkat besar dikenakan baju kurung teluk belanga atau cekak musang. Kadang ada yang memakai celana setengah atau di bawah lutut dilengkapi dengan songkok atau kopiah.
Untuk anak perempuan yang belum akil baliq, mereka memakai baju kurung satu stel dengan bermotif bunga-bunga satu corak. Untuk anak perempuan yang sudah akil baliq mereka mengenakan pakaian sesuai menurut adat istiadat Melayu.
b. PakaianDewasa (Akil Baliq)
. Pakaian harian untuk anak lelaki yang sudah akil baliq adalah baju kurung cekak musang atau teluk belanga tulang belut. Sedangkan untuk perempuan mengenakan pakaian baju kurung labuh, baju kebaya pendek, dan baju kurung tulang belut. Stelan memakai baju kurung ini adalah kain batik, dan untuk tutup kepala berupa selendang atau kain tudung lingkup yang dipakai jika untuk keluar rumah.
c. Pakaian Orang Tua-tua
Pakaian orang tua-tua perempuan setengah baya adalah baju kurung yang disebut baju kurung tulang belut. Baju longgar dan lapang dipakai. Selain itu ada juga baju kurung, ada kebaya labuh panjangnya hingga ke bawah lutut dan agak longgar. Kedua bentuk baju ini memakai pesak dan kekek. Lalu ada juga baju kebaya pendek yang biasa dipakai untuk ke ladang maupun untuk di rumah.
B. Pakaian Resmi
Pakaian resmi lelaki baju kurung cekak musang yang dilengkapi dengan kopiah. Kain samping yang terbuat dari kain tenun dari Siak, Indragiri, Daik, Terengganu, atau lainnya yang dibuat dan bermotifkan ciri khas budaya Melayu. Sedangkan untuk perempuan adalah baju kurung kebaya labuh dan baju kurung teluk belanga atau juga baju kurung cekak musang. Untuk kepala rambutnya disiput jonget, lintang, lipat pandan. Pada siput dihiasi dengan bunga melur, bunga cinga atau diberi permata. Kepala ditutup dengan selendang, dibelitkan keleher. Rambut tak tampak, dada tertutup.
C. Pakaian Melayu dalam Upacara Adat
Dalam hal pakaian adat , setiap wilayah kesatuan adat membakukan secara lengkap pakaian adat wilayah kesatuan adatnya, dengan lambing-lambang dan makna yang terkandung di dalamnya.
Pakaian adat ini dipakai dalam upacara adat yang pada masa lalu dipakai di kerajaan-kerajaan di kawasan Bumi Melayu, seperti untuk: upacara penobatan raja, pelantikan menteri, orang besar kerajaan dan datuk-datuk, upacara menjunjung duli, penyambutan tamu-tamu agung dan tamu-tamu dihormati, upacara adat menerima anugerah dan penerimaan persembahan dari rakyat dan negeri-negeri sahabat.
Tata berpakaian secara adat dalam upacara adat dapat dibedakan sebagai berikut. Pakaian adat dalam acara nikah dan perkawinan, pakaian upacara adat, pakaian Melayu sebagai mempelai pengantin, pakaian ulama dan upacara keagamaan.
D. Pakaian dalam Upacara Perkawinan
Bentuk pakaian Melayu pesisir, kepulauan, dan daratan Riau tidaklah berbeda terlalu jauh. Untuk upacara perkawinan ini pakaian yang dikenakan oleh pengantin lelaki dan perempuan daerah pesisir, kepulauan dan daratan ini ditentukan oleh prosesi pernikahan. Misalnya pakaian yang dikenakan untuk akad nikah berbeda dengan pakaian yang dikenakan padamalam berinai, pada hari besar, dan seterusnya.
.Umumnya untuk pakaian mempelai lelaki bentuk bajunya adalah baju cekak musang atau baju kurung teluk belanga. Kecuali daerah Lima Koto Kampar baju pengantin lelakinya berbentuk jubah.
Sedangkan untuk perempuan, pada acara malam berinai memakai kebaya labuh atau memakai baju kurung teluk belanga dari bahan tenunan, sutra, saten, atau borkat. Sedangkan kain yang dipakai tenunan dari Siak, Indragiri, Daik, atau Trengganu.
E. PakaiandalamUpacaraKeagamaan
Dalam upacara keagamaan bagi lelaki tua dan muda mengena kaian pakaian berbentuk cekak musang atau baju kurung teluk belanga, pakai songkok, kain samping dari kain pelekat atau kain tenunan. Sistem pemakaian baju ada dua macam, yaitu baju dagang dalam dan baju dagang luar.
· Dikutip oleh Mosthamir,
Dari buku PAKAIAN TRADISIONAL MELAYU RIAU
oleh Drs.H. O.K. NizamiJamildkk, terbitanLembagaAdatMelayu Riau/LPNU, 2005.






